Fish

Senin, 01 Juli 2013

Landasan dan asas-asas pendidikan



Landasan dan Asas-Asas Pendidikan serta Penerapannya
Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik selalu bertolak darisejumlah landasan serta pengindahan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Beberapa landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofis, sosiologis, dan kultural, yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan. Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan mendorong pendidikan untuk mnjemput masa depan.
Setelah memprlajari BAB III ini, anda diharapkan dapat :
1.       Memahmi berbagai landasan pendidikan, utamanya landasan filosofis, landasan sosiologis, landasan kultural, landasan psikologis, serta landasan ilmiah dan teknoligi, baik pada pendidikan pada umumnya maupun khusus untuk Indonesia.
2.       Memahami makna serta cara-cara penerapan berbagai asas pendidikan, utamanya asas Tut Wuri Handayani, asas bekajar sepanjang hayat, dan asas kemandirian dalam belajar.
3.       Memiliki wawasan kependidikan dengan perspektif yang luas tentang pendidikan, baik dari segi konseptual dan ataupun dari segi operasional.  
Bab III ini akan memusatkan paparan dalam berbagai landasan dan asas pendidikan, serta beberapa hal yang berkaitan dengan penerapannya. Landasan-landasan pendidikan tersebut adalah filosofis, kultural, psikologis, serta ilmiah dan teknologi. Sedangkan asas yang dikalia adalah asas Tut Wuri Handayani, belajar sepanjang hayat, kemandirian dalam belajar.

A.LANDASAN PENDIDIKAN
Pendidikan adalah sesutau yang universal dan berlangsng terus tak terputus dari generasi ke generasi di mana pun di dunia ini. Upaya memanusiakan manusia melalui pendidikan itu diselenggarakan sesuai dengan pandangan hidup dan dalam latar sosial-kebudayaan setiap masyarakat tertentu. Oleh karena itu, meskipun pendidikan itu universal, namun terjadi perbedaan-perbedaan tertentu sesuai dengan pandangan hidup dan latar sosiokultural tersebut.
1.                  Landasan Filososfis
Landasan filosofis merupakan landasan yang berkaitan dengan makna atau hakikat pendidikan, yang berusaha menelaah masalah-masalah pkok seperti: apakah pendidikan itu, Mengapa pendidikan itu diperlukan, apa yang seharusnya menjadi tujuannya, dan sebagainya. Konsepsi-konsepsi filosofis tentang kehidupan manusia dan dunianya pada umumnya bersumber dari dua faktor, yaitu:
·                     Religi dan etika yang bertumpu pada keyakian.
·                     Ilmu pengetahuan yang mengendalakan penalaran.

           Penggunaan istilah filsafat dapat dalam dua pendekatan, yakni:
·                     Filsafat sebagai kelanjutan dari berfikir ilmiah.
·                     Filsafat sebagai kajian khusus yang formal.

a.                  Pengertian Landasan Filosofis
Terdapat kaitan erat antara pendidikan dan filsafat karena filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat, sedangkan pendidikan berusaha mewujudkan citra itu.
Kajian-kajian yang dilakukan oleh berbagai cabang filsafat ( logika, epistemologi, etika, dan estetika, metafisika dan lain-lain) akan besar pengaruhnya terhadap pendidikan, karena prinsip-prinsip dan kebenaran-kebenaran hasil kajian tersebut pada umumnya diterapkan dalam bidang pendidikan. Peranan filsafat dalam bidang pendidikan tersebut berkaitan dengan hasil kajian antara lain tentang:
·                     Keberadaan dan kedudukan manusia sebgai makhluk di dunia ini.
·                     Masyarkat dn kebudayaan.
·                     Ketrbatasan manusia sebagai makhluk hidup yang banyak menghadapi tantangan.
·                     Perlunya landasan pemikiran dalam pekerjaan pendidikan, utamanya filsafat pendidikan.
 Landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandanagan dalam filsafat pendidikan, meyangkut keyakianan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan. Aliran filsafat pendidikan antara lain:
·                     Idealisme,
·                     Realisme,
·                     Perenialisme,
·                     Esensialisme,
·                     Pragmatisme dan Progresivisme dan
·                     Ekstensialisme
Salah seorang tokoh pragmatisme, mengemukakan bahwa penerapan konsep pragmatisme secara eksperimental melalui lima tahap:
·                     Situasi tak tentu ( indeterminate situation ).
·                     Diagnosis.
·                     Hipotesisi.
·                     Pengujian hipotesisi.
·                     Evaluasi.
Progresivisme menentang pendidikan tradisional serta mengembangkan teori pendidikan dengan prinsip-prinsip antara lain:
a.                  anak harus bebas agar dapat berkembang wajar.
b.                  Menumbuhkan minat melalui pengalaman langsung untuk merangsang belajar.
c.                   Guru harus menjadi peneliti dan pembimbing kegiatan belajar.
d.                  Harus ada kerja sama sekolah dan rumah.
e.                  Sekolah progresif harus meripakan suatu laboratorium untuk melakukan eksperimentasi.
Selanjutnya perlu dikemukakan secara ringkas empat mazhab filsafat pendidikan yang besar pengaruhnya dalam pemikiran dan penyelenggaraan pendidikan. Keempat mazhab filsafat pendidikan itu adalah:



1.     ­Esensialisme
Esensialisme adalah mashab pendidikan yang mengutamakan pelajaran teoretik (liberal arts) atau bahan ajar esensial. Menurut mazhab esensialisme, yang termasuk the liberal arts, yaitu:
a.                   Penguasaan bahasa termasuk retorika
b.                   Gramatika
c.                    Filsafat
d.                   Ilmu kealaman
e.                    Matematika
f.                    Sejarah
g.                    Seni keindahan (fine arts)

2.     Perenialisme
Perensialisme adalah aliran pendidikan yang megutamakan bahan ajaran konstan (perenial) yakni kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan universal. Perbedaannya dengan esensialisme adalah:
a.                  pengetahuan yang benar (truth)
b.                  keindahan (beauty)
c.                   kecintaan kepada kebaikan (goodness)

3.     Pragmatisme dan Progresifme
Prakmatisme adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme yang menentang pendidikan tradisional.
Dengan belajar anak bertumbuh dan berkembang secara utuh. Karena itu, sekolah tidak mengajar  anak, melainkan melaksanakan penndidikan. Pendidikan adalah dapat sepanjang hayat. Pendidikan bukan persiaoan untuk hidup. Orang dapat belajar dari hidupnya, bahkan kehidupan itu adalah pendidikan bagi setiap orang.




4.     Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme adalah mazhab filsafat pendidikan yang menempatkan sekolah/lembaga pendidikan sebagai pelopor perubahan masyarakat.
Oleh karena itu, sekolah perlu mengembangkan suatu ideologi kemasyarakatan yang demokratis. Keunikan mazhab ini adalah teorinya mengenai peranan guru, yakni sebagai pemimpin dalam metode proyek yang memberi peranan kepada murid cukup besar dalam proses pendidikan. Namun sebagai pemimpin penelitian, guru dituntut supaya menguasai sejumlah pengetahuan dan ilmu esensial demi keterarahan pertumbuhan muridnya.

b.   Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidkan Nasional
Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945. sedangkan Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan pula bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar negara Indonesia.
Petunjuk pengamalan pancasila tersebut dapat pula disebut sebagai 36 butir nilai-nilai pancasila yaitu:
1.                   4 butir di Ketuhanan Yang Maha Esa
2.                   8 butir di Kemanusiaan yang adil dan beradab
3.                   5 butir di Persatuan Indonesia
4.                   7 butir di Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan
5.                   12 butir di Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

2.                  Landasan Sosiolagis
Manusia selalu hidup berkelompok, sesuatu yang juga terdapat pada makhluk hidup lainnya, yaitu hewan. Hidup berkelompok memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.                  ada pembagian kerja yang tetap pada anggota
b.                  ada ketergantungan antara anggota
c.                   ada kerja sama antara anggota
d.                   ada komunikasi antara anggota
e.                  Ada diskriminasi antarindivudu yang hidup dalam suatu kelompok dengan individu yang hidup dalam kelompok lain

a.   ­Pengertian Landasan Sosiologis
Dasar sosiolagis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik masayarakat.Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiolagi  pendidikan meliputi empat bidang:
1.     Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.
2.     hubunan kemanusiaan.
3.     Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.
4.     Sekolah dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya.
Keempat bidang yang dipelajari tersebut sangat esensial sebagai sarana untuk memahami sistem pendidikan dalam kaitannya dengan keseluruhan hidup masyarakat.
Selanjutnya, di samping sekolah dan keluarga, proses pendidikan juga sangat dipengaruhi oleh berbagia kelompok sosial dalam masyarakat, seperti kelompok keagamaan, organisasi pemuda dan pramuka dan lain-lain.
Di samping itu, kelompok sebaya memberikan jalan pada anak untuk lebih independen dan menumbuhkan sikap kerja sama dan membuka horison anak lebih luas.

b.   Masyarakat indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional
Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah mempengaruhi sistem pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat dan komplek.
Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan masyarakat terutama dalam hal menumbuhkembangkan KeBhineka tunggal Ika-an, baik melalui kegiatan jalur sekolah (umpamanya dengan pelajaran PPKn, Sejarah Perjuangan Bangsa, dan muatan lokal), maupun jalur pendidikan luar sekolah (penataran P4, pemasyarakatan P4 nonpenataran).


3.                  Landasan Kultural
Pendidikan selalu terkait dengan manusia, sedang setiap manusia selalu menjadii anggota masyarakat dan pendukung kebudayaan tertentu.

a.   Pengertian Landasan Kultural
Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan/ dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baiksecara formal maupun informal.
Anggota masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang sesuai denga perkembangan zaman sehingga terbentuklah pola tingkah laku, nlai-nilai, dan norma-norma baru sesuai dengan tuntutan masyarakat. Usaha-usaha menuju pola-pola ini disebut transformasi kebudayaan. Lembaga sosial yang lazim digunakan sebagai alat transmisi dan transformasi kebudayaan adalah lembaga pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga.

b.   Kebudayaan sebagai Landasan Sistem Pendidkan Nasional
Pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik di setiap daerah itu melalui upaya pendidikan sebagai wujud dari kebineka tunggal ikaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Hal ini harsulah dilaksanakan dalam kerangka pemantapan kesatuan dan persatuan bangsa dan negara indonesia sebagai sisi ketunggal-ikaan.

4.                  Landasan Psikologis
Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis merupakan salah satu landasan yang penting dalam bidang pendidikan.

a.   Pengertian Landasan Filosofis
Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan perkembangan anak. Pemahaman etrhadap peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan.
Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap peserta didik, sekalipun mereka memiliki kesamaan. Penyusunan kurikulum perlu berhati-hati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garis-garis besar pengajaran serta tingkat kerincian bahan belajar yang digariskan.

b.   Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis
Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam membantu proses tumbuh kembang itu secara efektif dan efisien.
Alexander dengan tegas mengemukakan tiga faktor utama yang bekerja dalam menentukan pola kepribadian seseorang yakni:
1.                  bekal hereditas individu
2.                  pengalaman awal di keluarga
3.                  peristiwa penting dalam hidupnya di luar lingkungan keluarga.

4.                  Landasan Ilmiah dan Teknologis
Pendidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mempunyai kaitan yang sangat erat. Seperti diketahui, IPTEK menjadi bagian utama dalam isi pengajaran; dengan kata lain, pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan pengembangan IPTEK.

a.   Pengertian Landasan IPTEK
Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung memaksa tenaga pendidik untuk mengadopsinya teknologi dari berbagai bidang teknologi ke  dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan yang berkaitan erat dengan proses penyaluran pengetahuan haruslah mendapat perhatian yang proporsional dalam bahan ajaran, dengan demikian pendidikan bukan hanya berperan dalam pewarisan IPTEK tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang sadar IPTEK dan calon pakar IPTEK itu. Selanjutnya pendidikan akan dapat mewujudkan fungsinya dalam pelestarian dan pengembangan iptek tersebut.

Ilmu mempunyai tiga asumsi tentang objek empiris, yakni:
1.                  objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain yang memungkin dilakukan klasifikasi.
2.                  Objek dalam jangka waktu tertentu tidak mengalami perubahan.
3.                  Adanya determinisme, bahwa suatu gejala bukan merupakan kejadian yang kebetulan tetapi mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap.

b.   Perkembangan IPTEK sebagai Landasan Ilmiah
Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang dimualai pada permulaan kehidupan manusia. Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajar sejogjanya hasil perkembangan iptek mutahir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan informasi maupun cara memproleh informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat.

B.    ASAS-ASAS POKOK PENDIDIKAN
Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusu s di Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Diantara  asas tersebut adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan asas Kemandirian dalam belajar.

1.     Asas Tut Wuri Handayani
Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari sitem Among perguruan. Asas yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian dikembangkan oleh Drs. R.M.P. Sostrokartono dengan menambahkan dua semboyan lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing Madyo Mangun Karso.
Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu:
·           Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh)
·           Ing Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah memberi dukungan dan semangat)
·           Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan)
Adapun asas 1922 adalah sebagai berikut:
a.        Bahwa setiap orang  mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dalam perikehiduoan umum.
b.        Bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah, yang dalam arti lahir dan batin dapat memerdekakan diri.
c.         Bahwa pengajar harus berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri.
d.        Bahwa pengajaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau kepada seluruh rakyat.
e.        Bahwa untuk mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuh-penuhnya lahir maupun batin hendaklah diusahakan dengan kekuatan sendiri.
f.          Bahwa sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak harus membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan.
g.        Bahwa dalam mendidik anak-anak perlu adanya keikhlasan lahir dan batin untuk mengobankan segala kepentingan pribadi demi keelamatan dan kebahagiaan anak-anak.

2.     Asas Belajar Sepanjang Hayat
Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education). Kurikulum yang dapat meracang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal.
·           Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan.
·           Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.

3.     Asas Kemandirian dalam Belajar
Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu suiap untuk ulur tangan bila diperlukan.
Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalamperan utama sebagai fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang memberikan peluang dalam melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sitem CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

kritik dan saran yang membengun sangat dibutuhkan,
dilarang menggunakan kata-kata kasar.